Menu

Tumbal Pesugihan

May 23, 2018 - Misteri
Tumbal Pesugihan

Pembaca yang budiman untuk sesaat kita kembali ke tahun 70-80, karena kejadian ini terjadi pada akhir tahun 70. Pagi itu tamu pondok kita, budhe Suminten dan putranya mas Bagus datang ke rumah, seperti biasa budhe terliat sangat elegan dan indah dengan kebaya dalam memakainya dan syal sutra kuning yang selalu di sempempangkan di pundaknya.

Saya segera mengundang mereka masuk, tetapi entah bagaimana perasaan saya menjadi tidak pasti, saya merasa ada sesuatu yang aneh, karena biasanya tidak akan datang ke rumah lagi untuk membawa makanan pokok dan begitu banyak untuk kami. Budhe biasanya hari yang berani dan agak arogan sangat lembut, bahkan dia bercakap-cakap dengan Ambalika dan ndaru (dua adik perempuan saya) saya tidak mengerti dengan perubahan sikapnya yang hanya bisa diam, sambil sesekali melirik budhe yang asik sampai rock Ndaru.

Saya berulang kali mengungkapkan kecemasan ini kepada ibu, tetapi dia menegur, dan melarang budha yang berprasangka. Cukup lama dan anak laki-lakinya di rumah kami, dia begitu asyik menceritakan masa kecilnya dengan ibunya, Budhe sendiri adalah saudara ipar ibu, dia menikah dengan nomor kedua saya. Budhe memang sukses dalam hidupnya, rumah-rumah besar, hamparan sawah, toko pakaian di mana-mana, jauh berbeda dengan kehidupan kita yang kekurangan.

Puas menceritakan budhe selamat tinggal pulang, dan lagi-lagi aku melihat pemandangan yang tidak biasa menurutku, budhe memeluk ibu erat-erat, lalu memeluk kedua adikku dan kemudian kedua anak lelaki itu mencium satu per satu. Terus terang saya semakin tidak sadar akan perubahan sikap budhe, yang biasanya selalu memandang rendah kita, mengapa tiba-tiba berubah baik. Hati kecilku membisikkan sesuatu yang salah, tanpa banyak pikir aku berlari ke rumah kakekku (ayah dari ibu) dan mengatakan padaku bahwa perubahan itu terjadi pada keluarga kami.

Kakek hanya mengangguk sambil mengelus jenggot putihnya, lalu dia memerintahkanku untuk mengikuti ayah yang bekerja di ladang dan membawanya pulang. Sesampai di rumah ada kakek ada di rumah kami, dia mengayun-ayun Ndaru, kakek langsung menyuruh bapak membersihkan. Saya tidak tahu apa yang dibicarakan kakek dan ayah, yang sangat serius memandang wajah mereka. Lalu datanglah sang ayah memanggil ibunya, dan bertanya tentang makanan pokok beserta oleh-oleh dari budhe. Ayah memerintahkan semua barang memberi budhe untuk tidak digunakan.

Kemudian ke semua barang dari budhe oleh kakek dibawa, dan menurut ayah dari segala sesuatu dari kakek budhe akan kembali, kakek tidak lama kembali ke rumah dan apa pun yang dia lakukan, saya melihat dia berjalan di sekitar rumah sambil menuangkan air adalah dalam toples. Kakek seharian tidak beranjak dari rumah kami, dia hanya berdzikir, setelah kakek magrib mengundang kami semua untuk belajar bersama.

Dan tiba-tiba kejang Ndaru dan Ambalika, matanya hanya tampak putih, dua adik saya terlihat seperti dicekik, ibu saya dan saya hanya menangis histeris menyaksikan dua adik saya, sedangkan kakek dan ayah tahu apa yang dia lakukan, mereka seperti patung yang tidak bergeming sama sekali. Tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara “brak, dar” seperti suara benda jatuh dan meletus. Setelah itu kakek dan ayah membuka mata mereka, dan langsung menuju ke Ndaru dan Ambalika.

Kakek yang terlihat bergumam membaca sesuatu di mahkota kedua saudara saya. Kemudian dua bocah malang itu terbatuk dan muntah. dalam arti semua kakek jadi mengajak ayah pergi ke rumah budhe. Menurut sang ayah di rumah kakek mengamuk, dan berkali-kali menampar menantu laki-lakinya. Kakek juga memperingati sang budhe, jika mengulangi perbuatannya maka sang kakek tidak segan-segan memusnahkan budhe.

Puas memarahi kakek kakeknya langsung memberitahu putranya tentang apa yang terjadi, saya sendiri tidak mengerti bahwa istrinya bersekutu dan menyembah jin, setan, makhluk gaib, dedemit, memedi, setan untuk meminta kekayaan. Karena pada saat dia menikah istrinya sudah kaya, jadi pakdhe tidak tahu tentang kekayaan istrinya diperoleh dari mana. Mungkin itu juga mengapa kakek menentang hubungan itu selama ini.

Pembaca yang budiman, setelah kegagalan buddh menumbalkan dua adik perempuan saya, hari berikutnya gudang penyimpanan biji-bijian dan toko pakaian milik budhe dijual habis dalam warna merah, bahkan rumah besar yang menjadi kebanggaan budhe terbakar habis, tetapi alamdullah semua keluarga budhe disimpan. Dan sejak itu budhe saya bangkrut dan miskin. Tidak ada lagi yang bisa dia banggakan. Segera dia jatuh sakit dan menderita gangguan mental, begitu banyak.