Menu

Misteri Tapak Kaki Di Makam Soeharto

April 29, 2018 - Misteri
Misteri Tapak Kaki Di Makam Soeharto

Tapak bima adalah tempat dimana makam soeharto di kebumikan dan tempatnya terletak di dusun Ngasinan, Matesih, Karanganyar dan berada di Jawa Tengah. Di Matesih dikenal sebagai lokasi makam mantan Presiden Soeharto. Di sini ada jejak ukuran yang jauh di atas manusia normal.

“Jejak kaki di sebuah batu besar dengan panjang hampir satu meter, diyakini oleh warga sebagai tapak kaki milik Bima yang merupakan salah satu dari lima pandawa,” kata penduduk setempat, Wito.
Menurut cerita yang berkembang, Bima dikirim oleh Guru Dorna resi untuk mencari angin. Dalam pengembaraannya dikatakan bahwa Bima tiba di daerah Karanganyar.

Karena di Karanganyar ini Bima tidak menemukan apa yang dia cari, maka dengan sekuat tenaga dia menginjak kakinya di atas bukit berbatu agar pijakan melompat ke awan.

Sejak saat itu, tumpukan batu awalnya dengan bukit berbatu jatuh dan meninggalkan sebuah batu dengan kaki kanan yang ditandakan.

Namun selain disebut tapak Bima, batu ini juga disebut sebagai jejak kaki Werkudara. Situs Bapak Tapak atau Tapak Werkudara sendiri terletak tersembunyi di tengah-tengah taman milik warga. Untuk sampai ke situs ini, harus meminta bantuan warga untuk mengambilnya. Karena tidak ada panduan.

Konon banyak orang yang dirasuki di tempat ini. Ketika dirasuki, warga mengeluarkan suara berat seperti suara Bima yang sering dicontohkan oleh dalang wayang.

Tidak hanya itu, warga juga menggambarkan sosok yang sedang memasuki dirinya. Dan sosok yang digambarkan oleh penduduk adalah sosok Bima.

Sehubungan dengan itu, banyak orang yang meyakini bahwa jejak kaki itu juga menunjukkan jari kaki kanan dengan ukuran super besar yang merupakan jejak kaki sejati milik Bima atau yang bagi orang Jawa lebih sering disebut dengan Werkudara.

Tidak jauh dari lokasi ini, ada situs watu kandang yang terdiri dari deretan batu berdiri yang tersusun rapi, Watu Kandang diperkirakan telah ada sebelum kuil-kuil di Indonesia dibangun.

Ada begitu banyak jenis dan bentuk zaman Megalitikum di kompleks batu yang menjejerkannya. Ada Punden Berundak yang berdiri miring seperti punden berundak yang biasanya disembah sebagai nenek moyang masyarakat megalitikum.

Di tempat itu juga ditemukan Menhir dari salah satu jajaran Watu Kandang. Menhir besar dan berdiri tegak seperti monumen. Dengan Menhir, dapat diasumsikan bahwa Watu Kandang dulu digunakan sebagai monumen suci untuk memuja roh leluhur.

Batu lainnya berbentuk seperti meja atau Dolmen. Terletak di tengah-tengah Watu Kandang lainnya, Dolmen diperkirakan akan digunakan untuk menaruh sesajen kepada roh leluhurnya.

Lalu, ada batu besar dan lebar, di tengah-tengah cumi-cumi dan dalam. Watu Kandang diklasifikasikan sebagai Lumbung Batu. Relik dari bentuk ini digunakan untuk digunakan sebagai tempat untuk mengupas beras.

Sebagai simbol kesuburan, ada batu berongga seperti alat bermain dakon. Batu itu disebut Watu Dakon. Akhirnya, ada Stone Tomb yang digunakan untuk meletakkan tubuh. Bentuknya persegi panjang dengan ukuran batu dan jarak batu yang sama dan teratur.

Meskipun objek wisata sejarah ini unik dan wajib dikunjungi, sayangnya hanya beberapa wisatawan domestik yang berkunjung ke tempat tersebut. Lokasi ini bahkan lebih banyak dikunjungi oleh warga negara asing.