Menu

Misteri Sumur Keramat Sendang Mas Dan Mula Banyumas

April 27, 2018 - Misteri
Misteri Sumur Keramat Sendang Mas Dan Mula Banyumas

Pada tahun 1708, seorang priyayi bermeditasi di Wanasepi, bukit-bukit angker yang kini menjadi bagian dari Desa Binangun, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas. Saat itu, matahari mulai tenggelam di barat. Kanvas keemasan langit, terlihat garis cahaya yang tidak biasa yang tegak lurus menyentuh daratan melalui padang belantara. Petapa itu mengerti dia sebagai wangsit, lalu dia berjalan tanpa alas kaki ke titik garis lampu.

Singgasana berdarah biru itu bernama Raden Malik Gandakusuma yang kemudian menjadi terkenal sebagai Bupati Banyumas Kedua Banyumas. Ia kewalahan, wilayah Banyumas sedang mengalami gejolak politik. Menenangkan pikiran di Wanasepi dia mencari bimbingan spiritual, bagaimana mengatasi kekacauan yang telah membawa efek kesengsaraan orang.

“Raden Gandakusuma melanjutkan perjalanannya ke hutan sampai ia mencapai mata air emas karena pantulan cahaya senja,” kata Sendang Mas, Triyono Indra W ketika ditemui di Kadipaten Banyumas, Desa Saudagaran, Kecamatan Banyumas.

Di mata air, Raden Gandakusuma kemudian melakukan wudhu dan melakukan salat Magrib. Lebih dekat dengan Sang Pencipta, ia mendapat bisikan untuk memindahkan pusat pemerintahan di mata air yang berada.

Mata air itu, konon akan menjadi perantara untuk mengusir bencana serta penyakit yang menyengsarakan rakyat Banyumas. Juga sebuah kekuatan bagi para pemimpin yang memiliki niat baik untuk meringankan penderitaan orang-orang biasa.

Singkat cerita, kemudian membangun kadipaten sesuai dengan wangsit. Mata air tersebut kemudian dikenal luas sebagai Sumur Mas, menjadi bagian paling istimewa di belakang kompleks Dalem Kadipaten. Diameter sumur 15 cm dengan kedalaman 3 meter, bertahan selama berabad-abad. Ini dipandang sebagai tempat suci, sebuah sumur yang banyak orang dari berbagai tempat bermunajat.

“Beberapa pejabat sering datang ke sini untuk berdoa, mereka mencuci muka dan minum air, minat mereka untuk mempertahankan atau mendapatkan posisi yang lebih tinggi, mengambil semangat kepemimpinan leluhur Banyumas,” kata Triyono sambil menyebutkan beberapa nama kabupaten, provinsi dan tingkat nasional. pejabat dari pemerintah ke militer yang dia minta untuk tidak disebutkan dalam reportase ini.

Namun kejadian yang tidak terduga juga biasa terjadi. Bisa jadi saat musim hujan, sumur kering selama musim kemarau air mengalir lancar. Keunikan lain, setiap bulan Ramadhan, air sumur hanya akan tersedia selama 3 hari setelah Jumat malam Kliwon. Pengunjung terkait juga tidak harus beruntung, seorang pejabat berulang kali gagal menggambar ketika sumur terisi dengan air. Bisa jadi juga, air yang dikenal di Nah Mas yang jernih ini, tiba-tiba keruh ketika ditimba.

Memang, siapa saja yang mau bermunajat di Sumur Mas harus mengambil air tanpa asisten juru kunci. Siapa pun yang memiliki kepentingan dengan Mas Nah, juga disarankan untuk memenuhi sejumlah kondisi untuk membawa bunga telon, kinangan, dupa rokok, pisang raja, dupa dan minyak putri duyung. Alat ember juga khusus disiapkan juru kunci, yaitu batok kelapa gading yang memiliki arti ingatan pada leluhur dan benang merah yang melambangkan kesetiaan.

“Adakah yang bisa pergi ke sini dengan baik, apa niatnya, saya tidak tahu apakah itu akan baik atau buruk, para tamu yang datang ke sini paling jauh dari Kalimantan, ada juga calon Bupati juga dalang perempuan dari Banten, “katanya.

Di Sumur Mas sendiri, diyakini juga bahwa waktu-waktu tertentu adalah yang paling mustajab. Triyono merinci Selasa Upah juga Manis Selasa sebelum Magrib sampai Isya. Juga tengah malam pada pukul 00.00 hingga 03.00 pada hari Kamis Legi atau Kamis Upah. Pada saat-saat ini, tak jarang, air sumur Mas ditimba penduduk setempat untuk berobat.

Warga Aris Kabupaten Kebumen, seorang videografer yang menemani ke kompleks Kadipaten Banyumas Lama menceritakan pengalaman menarik selama empat kunjungan ke Sumur Mas. Tiga kali sebelumnya, bersama dengan teman-temannya, dia selalu gagal menarik air di sumur. Padahal pada saat itu, terlihat genangan air di dalam sumur tidak dalam keadaan kering.

“Mungkin itu kebetulan, tapi empat kali saya bisa,” katanya sambil mengatakan semoga sumur air menginspirasi dia untuk membuat film dokumenter lebih berkualitas pada 2018.

Di komplek Kadipaten Banyumas sendiri, sebenarnya ada 6 sumur lain yang semuanya ada di halaman belakang atau Taman Sari. 3 sumur terletak di sisi barat, 3 sumur lainnya terletak di sisi timur, sedangkan sumur berada tepat di garis tengah. Di masa lalu sumur ini memiliki fungsi masing-masing mulai dari kebutuhan dapur keluarga Kadipaten, untuk memandikan mayat keluarga kadipaten untuk sumur khusus untuk kuda.

Tujuh sumur dengan pusat sumur Mar disebut pitulungan dari asal kata pitu, yang disebut nomor 7 dalam bahasa Jawa. Sumur ditafsirkan sebagai sumber mata pencaharian bagi warga Banyumas, sedangkan kejernihan air adalah simbol pengingat perlunya pikiran yang bersih bagi warga Banyumas untuk menjalankan berbagai kegiatan.

Setidaknya, yang jernih adalah apa yang dibutuhkan warga Banyumas dan para pejabat di Banyumas. Apalagi pada 2018, ini akan menjadi ajang pemilihan kepala daerah. Diperlukan pikiran yang jernih untuk mengurangi konflik antar kelompok dan mengantisipasi persaingan tidak sehat