Menu

MISTERI PINTU BERUKIR

September 4, 2019 - Misteri
MISTERI PINTU BERUKIR

Sebut saja Anna…cerita ini berawal dari satu keluarga yang menetapi sebuah rumah yang cukup lumayan besar dan di dalam rumah yang mereka tempati tersebut ada sebuah pintu yang berukir gambar kuno.. Kejadian misteri ini menipa salah seorang anak yang bernama Anna. Anna membuka pintu kamarnya dan lagi-lagi dia melihat pintu berukir itu terbuka. Anna merasa takut dan merinding. Karena dia sangat yakin sekali dia tadi sudah menyuruh bibik pengasuhnya menutup rapat pintu itu.

Perasaan yang di rasakan olehAnna mulai enak. Karena pada saat Papanya memasang pintu ukir dari Jepara itu, Anna sudah sangat tidak setuju. Karena Anna sama sekali tidak suka benda-benda berukir yang tampak kuno. Anna pun merasa takut kalau pintu itu ada penunggunya. Dan, nyatanya sekarang, pintu itu bisa terbuka dengan sendiri. Belum ditambah lagi sekarang sering terdengar suara-suara aneh di rumah. Hiiii…

“ngekkkk….ngekkkk… “ Suara itu terdengar lagi. Arahnya tepat dari ruangan di balik pintu ukir Jepara itu. Ruangan itu yang biasa dipakai untuk tamu-tamu Papa. Padahal sekarang Anna tahu pasti sedang tidak ada tamu yang menginap.

“Ketuk … ketuk … ketuk!” Suara dari dalam kamar tamu semakin keras. Anna mencoba untuk berani dan mengayunkan kakinya yang lemas ke ruang tamu. Tapi hanya berjalan beberapa langkah, suara lain terdengar, “Eaaaaa …” Hwaaaahhh!

Anna tidak tahan lagi. Dia segera berlari ke kamarnya. Di kamar, Anna menyelinap ke selimut. Ribuan pikiran buruk dibayangkan. Bagaimana jika pintu berukir itu dulunya adalah pintu kamar seorang putri Jepara? Kemudian selama era kolonial Belanda, apakah Putri Jepara hamil dan dibunuh oleh tentara Belanda? Sekarang suaranya seperti suara roh Putri dan bayi itu memiliki bayi yang menangis! ke pintu hiasan dan menghantui siapa pun dari keturunan Belanda? Huwaaaah! Mama Anna, benar, Belanda.

Anna memejamkan matanya erat-erat mencoba memikirkan sesuatu yang lain, tetapi bayangan kebaya Putri Jepara yang bulat dan putih tidak dapat dipisahkan dari benaknya. Wajah pucatnya, bibir kebiruan, bayi pucat yang menangis di pelukannya. Hwaaaahhh! Anna mulai takut.

“Ketuk … ketuk … ketuk …” terdengar suara langkah kaki di depan kamarnya. Anna semakin dalam ke selimutnya. Astaga, bagaimana jika tiba-tiba dari dalam selimut ada tangan dingin yang meraih betisnya. Hwaaaaahh! Anna meringkuk lebih erat.

Tiba-tiba plek! Sebuah tangan mengguncang bahunya. “Hwaaaaaaaaahh !! Ampuuuun!” Anna berteriak di atas paru-parunya.

“Anna! Kenapa? Ini Mama,” panggil pemilik tangan. Anna membuka matanya.

“Mama!” Anna memeluk ibunya.

“Kenapa, Na? Kamu, kok bisa, seperti kamu baru bertemu iblis seperti itu?” Tanya Mama.

“Huhuhuhu … Anna takut, Bu, di pintu ukiran Jepara yang baru,” jawab Anna.

Anna mulai berbicara tentang suara-suara yang dia dengar dan pintu selalu terbuka dengan sendirinya. Anna juga berbicara tentang imajinasinya tentang Putri Jepara yang membunuh Belanda dan menghantui keturunan Jepara.

Mama tidak bisa menahan senyum juga. Anna pengecut, tetapi menonton film horor. Imajinasi menjadi seperti berbagai hal.
“Tenang, Na. Itu hanya mencoba kamu. Kakakmu bisa menjelaskannya,” kata Mama, lalu berbalik ke pintu. “Liana, datang ke sini. Jelaskan kepada Ms. Anna.”

Liana yang masih duduk di kelas dua sekolah dasar masuk. Mata kebiruannya melebar lebar. Dia sepertinya memegang sesuatu di balik syal yang dia bungkus di depan tubuhnya.
Tiba-tiba … “Eaaaaa …” Ya ampun! Bayi itu menangis lagi. Anna meraih tangan ibunya.
“Sis Anna, ini imutnya,” kata Liana, mengungkapkan syalnya, menunjukkan anak kucing itu masih sangat kecil.
“Eaaaaa …” anak kucing itu mengeong. Astaga! Ternyata suara tangisan bayi adalah suara kucing kecil! Liana ditemukan terbaring di sudut halaman. Karena itu, Liana merawatnya diam-diam di ruang tamu. Pintu Jepara sering dibuka sendiri karena Liana suka masuk dan keluar dari kamar untuk memberi makan SI Manis.
“Lianaaa! Kamu membuatku mual! Kenapa tidak dihakimi kemarin?” Tanya Anna jengkel karena malu.
“Karena kamu tidak suka kucing, bukan,” kata Liana polos.
“Huh … dari hantu Puteri Jepara, aku lebih suka kucing, Li,” gumam Anna. Mama dan Liana tertawa.