Menu

Misteri Pesugihan

April 26, 2018 - Misteri
Misteri Pesugihan

Malam itu, Sumarsih, Tertidur pulas dan dalam tidurnya tanpa terbuai mimpi indah. Karena hanya dengan membaringkan tubuh yang agak bengkok dengan posisi terlentangnya, satu-satunya cara untuk menangkal keletihan luar biasa malam itu. Karena siang dan sore Sumarsih baru saja membantu kelahiran dua wanita yang melahirkan bayinya. Tidak seperti biasanya, karena salah satu wanita hamil adalah bayinya di sungsang posisinya.

Dengan begitu, Sumarsih harus ekstra keras dan menguras energinya dalam menangani kasus kelahiran bayi sungsang di perut ibunya. Selain berhati-hati dan telaten memijat perut ibu hamil, juga harus hati-hati memijat bagian-bagian tubuh pasien.

Namun berkat pengalaman puluhan tahun sebagai bidan, meski butuh berjam-jam, akhirnya bayi sungsang itu lahir dengan selamat.
Kalau sudah begitu, bukan hanya ibu si bayi yang puas Sumarsih pun lega, meski hanya diberi sedikit upah.

Karena bantuan kelahiran bayi dilakukan dengan ketulusan tulus, sepenuh hati dan tanpa syarat melalui sentuhan kemanusiaan yang berhubungan dengannya. Semua terjadi, karena jiwanya telah terbentuk dari masyarakat yang udik di lingkungan Dukuh Kedung Pring. Ketulusan mudah dilupakan Sumarsih, ketika dia tertidur lelap seperti malam itu.

Tiba-tiba angin bertiup kencang pada satu titik, menabrak satu duduk di pintu pondok Sumarsih yang tidur dengan nyenyak. Sementara, malam semakin tua, sepi seperti pemukiman mati, apalagi jarak satu rumah ke rumah lainnya berjauhan, membuat suasana semakin tegang. Dan jaraknya walau samar, tetapi jelas terdengar suara auman khas kumbang harimau. Sumarsih terjaga, tertegun sejenak, diam, dengan posisi duduk.

Bersama dengan kesadarannya yang belum pulih, Sumarsih, melihat daun pintu yang bergerak maju mundur, seolah-olah menendang tanpa tujuan, karena angin kencang, membuat selot pintu itu hilang dan lubangnya. Kejadian itu hanya itu, karena daun pitu terlepas dan bahkan kemudian benar-benar lepas dan berlubang. Pintunya terbuka lebar, hembusan angin seperti hantu dan terus mengamuk.

Tubuh kurus Sumarsih memantul sangat kuat, punggungnya jatuh dan masuk ke dinding gubuk sampai keluar. Dengan semua kekuatannya tersisa, kebebasan Sumarsih untuk berdiri, meski tersandung tubuh wanita tua ini, bergerak dan menjauh dari angin dan punggung. Burung-burung gagak di sekitar, terbang perlahan melalui kepadatan, mengikik para pria.
Kisah mistis misteri kisah nyata hidup kaya dari hasil pesugihan bayi kuntilanak

Burung gagak dan hembusan angin, seperti membimbing langkah Sumarsih melalui jalan-jalan batu yang luas dan daun rimbun yang tumbuh di cabang-cabang pohon hutan. Jaraknya tak terhitung langkah yang dapat diukur, tetapi jelas raungan raungan kumbang tidak lagi terdengar, gagak berkokok dan diam, karena gagak sudah bertengger di pohon prasejarah besar. Sejenak kesunyian kembali mencengkeram, sementara shedding rambut Mbok Wagiyen terasa bergetar.

Menenggelamkan yang lebih tua, sekarang mendengar erangan para wanita yang mengenakan pakaian serba putih yang hampir semua pakaian dalamnya, mulai dari selangkangan berwarna merah, tertutup darah segar. Sumsum yang awalnya mengelus leher lehernya, kini tak lagi terasa, didorong rasa kasihan dan kemanusiaan. Naluri pengalamannya sebagai dukun remaja muncul.

Segera tanpa ba bi bu lagi, dengan gesit dan kelincahan jari-jarinya, Sumarsih segera memberikan bantuan atas ibu hamil tua yang sempat melahirkan dalam keadaan selaput yang sudah pecah.

Dengan tangan kirinya, Sumarsih terus mengelus perut kembung seorang wanita misterius yang jelas belum diketahui, sementara boreh daun pohon preh bercampur dengan air liur dan mulut lamanya setelah dikunyah datar. Jari-jari tangan kanannya meraih dan menusuk rahim seorang wanita berpakaian putih dengan rambut panjang yang longgar.

Mata wanita mistis terus terlihat tajam pada cara Sumarsih terus meneteskan keringatnya di dahinya. Agak aneh, Sumarsih berusaha menyelamatkan bayinya di dalam rahim wanita ini. Mengapa? Ya, karena bayi itu kalung usus! Ususnya melilit leher bayi di dalam rahim. Jari-jari Sumarsih terus bergerak, mengatur dan mengembalikan posisi usus ke tempatnya yang semestinya.

Sementara wanita misterius itu masih terus merintih, meski rasa sakitnya secara bertahap berkurang.
Dan … cenger! owek … .ekek. . .owek, bayinya longgar dan rahim seorang wanita misterius, terlahir dengan wanita … selamat! Maka bayi merah itu segera dibawa dalam gendongan Sumarsih, saat dia melangkah pergi dan ibu bayinya, untuk mencuci muka dan kaki bayi yang baru lahir dengan semprotan air tepat di bawah pohon preh.

Pakaian Sumarsih yang kini menjadi lap kain, karena angin kencang yang sebelumnya mobat mabit mengenai tubuhnya, segera dilepas untuk menyelimuti tubuh bayi yang baru lahir.
Di ufuk timur langit tampak mulai memerah, meskipun matahari belum muncul, ayam jago berkokok terdengar saut-sautan, menandakan malam telah berubah menjadi pagi sebelumnya.
Sumarsih berdiri diam, menoleh ke belakang, dia terkejut, karena wanita yang baru saja membantu kelahirannya, telah menghilang tanpa bekas. Masih dalam keadaan tercengang, gagak yang dan sebelumnya telah terjalin di dahan pohon preh juga bersayap, terbang tinggi dan lenyap juga.

Demikian pula bayi yang dalam pelukannya juga muksa, Sumarsih hanya bisa tertegun, diam saja telanjang punggung dan lengannya hanya hidup memakai stek dan kain lurik putih berstagen lurik. Kuntilanak lahir! Apa itu benar? Sekali pikir Sumarsih, sambil terus berjalan, menuruni jalan terjal di perbukitan. Pagi itu hingga sore, Sumarsih melakukan kegiatan seperti biasa, layakan orang di perdukuhan.

Tapi anehnya lagi, sejak kejadian setiap malam sudah mulai mendahului, tiba-tiba saja, di tempat tidur Sumarsih meletakkan sosok bayi perempuan yang terkadang menangis dan terkadang bayinya juga dalam keadaan tertidur nyenyak.

Maka sejak malam itu, Sumarsih harus merawat bayinya, seperti bayi manusia normal, memberi minum, mencuci popok basah untuk ompol, juga nembang dengan lirik Jawa, cara tradisional Iayaknya seorang ibu meletakkan bayinya untuk tidur.

Bersamaan dengan itu pula, kehidupan Sumarsih berangsur-angsur menjadi lebih baik, rejeki, kekayaan dan gelar semakin meningi. Sekarang Sumarsih, menjadi orang terkaya di Dung Kedung Pring, ladangnya seluas hektar dengan kerja puluhan orang. Namun Sumarsih, masih berlaku seperti sebelumnya, ia masih bersahaja, menekuni profesinya menjadi dukun bayi yang dilakukan dengan ikhlas dan sepenuh hati.