Menu

MISTERI JEMBATAN PANUS

May 31, 2019 - Misteri
MISTERI JEMBATAN PANUS

malam yang sangat dingin kelihatannya sudah tidak lagi bisa mengalihkan perhatian saya dari Furi Harun, perempuan indigo yang tengah bertemu Stefanus si hantu pembuat jembatan. Stefanus ini adalah pria warga keturunan Belanda yang digambarkan memiliki tinggi badan 189 cm dengan perkiraan umur 43 tahun.

Sambil berbicara dengan kami, tatapan matanya memandang tajam ke arah sebuah pohon tinggi yang beradaa di sisi jembatan, tempat dimana Stefanus biasa berdiam. Menurut Furi, Stefanus datang bersama dengan anjing kesayangannya. Furi pun datang tidak sendiri, dia membawa boneka chika, yang merupakan boneka kuman thong, yang setia menemani dia.

“Terima kasih banyak,” kata Furi mengambil nafas, lalu melanjutkan “Dia mengucapkan terima kasih karena pada akhirnya ada orang yang datang untuk menyampaikan cerita yang asli tentang dia. Enggak membuat keributan, sehingga energi negatif lain menyingkir,” ucap Furi tanpa melepaskan tatapannya.

Furi pun kembali menjelaskan, anjing putih milik Stefanus itu menjemput ajal 6 jam pada saat Stefanus ditembak, akan tetapi penyebab kematiannya sangat sekali jauh berbeda dengan Stefanus. Furi pun terdiam sejenak. “Heli nama anjing putihnya,” kata furi.

Tapi, yang mengherankan menurut Stefanus kenapa istrinya juga ikut bunuh diri dua hari setelah dia meninggal. Meski pun begitu, dia tidak pernah menyalahkan siapa pun, menurut Furi, Stefanus sangat percaya bahwa yang menimpa mereka adalah nasib yang harus mereka jalani. Saat ini, mereka pun tetap betah berada di jembatan tersebut.

Tapi, lanjut Furi, Stefanus pun mengungkapkan kekesalannya pada orang-orang yang kerap membuang kelapa dan sampah, karena itu akhirnya menjadi energi yang negatif. Saya pun sampai tak ingat sejak kapan menahan nafas, karena saya terlalu fokus mendengarkan cerita Furi, yang tak pernah melepaskan pandangannya dari arah pohon.

Akan tapi kalimat selanjutnya kembali membuat saya menahan nafas. Furi pun bercerita bahwa ada kejadian dan peristiwa mutilasi sekitar tujuh tahun yang lalu ada yang dimutilasi dan dibuang mayatnya di sini. Saya pun mencoba berusaha mengali-gali ingatan saya pada peristiwa 7 tahun silam.

Ya, di tahun 2012 memang pernah ada dua orang berpakain hitam membuang karung goni, dari karung goni tersebut meneteskan bercak-bercak darah yang tersisa di jalanan dan di pinggir pagar jembatan. polisi pun tidak pernah menemukan isi karung yang dibuang tersebut karena karung tersebut hilang dibawa derasnya arus sungai. Tapi, penelitian uji laboratorium menunjukkan bahwa bercak darah yang di temukan itu positif bercak darah manusia.

Rasanya ingin saya nimbrung omongan tersebut dan ingin sekali saya bertanya soal korban mutilasi tersebut. Tiba-tiba saja tenggorokan saya terasa tercekat, membuat saya tidak bisa mengeluarkan suara sepatah kata pun dari mulut saya dan saya hanya menggumam sendiri saja. Padahal, menurut Furi banyak “warga” di situ tidak pernah menggangu sekitarnya, mereka hanya tinggal di sana.

Nah, siapa warga itu? Sekali lagi.. tanpa perlu saya bertanya-tanya, Furi pun sudah bisa menebak isi otak saya. Warga yang tinggal di sana adalah mereka yang meninggal pada saat membangun jembatan tersebut. Menurut Stefanus sendiri, jembatan itu memang sengaja dibuat untuk masyarakat Indonesia, hanya saja peralatan orang lama yang belum memadai membuat potensi kecelakaan kerja meningkat.

“Pembuatan jembatan banyak sekali memakan korban karena banyak yang memikul barang yang terlampau berat dan di paksakan untuk mengangkatnya. Seperti ngambil batu, sehingga leher hampir putus,” ucap Furi seperti mengulang pesan Stefanus.

Bagimana tidak banyak yang meninggal, Karena jembatan tersebut ternyata hanya dibuat dari media putih telur dan tanah. Menitip uang berkutang, menitip kata bertambah, mungkin inilah yang terjadi pada kisah jembatan Panus. Konon cerita yang beredar malah pembangunan Jembatan Panus harus menumbalkan kepala.

Dengan tenang Furi pun terus menerus mengisahkan alasan mengapa stefanus masih menjaga juga tempat ini, tidak lain karena dia sangat berterima kasih pada rakyat zaman dulu yang sudah membantu membangun jembatan ini. Sayangnya, rumor yang melekat di Jembatan Panus ini seakan negatif karena banyak kejadian bunuh diri dan pembunuhan yang akhirnya mengotori jembatan.