Menu

Misteri Arwah Penasaran

April 26, 2018 - Misteri
Misteri Arwah Penasaran

Kisah ini berawal dari kisah nyata hantu arwah penasaran orang yang sudah meninggal dan mati secara tidak wajar. Berikut ini simak kisah nyata cerita mistis misterinya. Sebenar nya aku sangat takut. Tiba-tiba saja tubuhku merasa menggigil dan terasa ingin pipis karena tegang, cuaca begitu dingin. Suhu disini mencapai 18 derajat selsius. Mengapa bisa di siang hari, Alam sekitar daerah Desa Baguang, sangatlah dingin. Jika pada siang hari cuaca terasa sangat panas sekali akan tetapi jika sudah mulai memasuki malam hari cuaca sangat dingin sekali dan menusuk-nusuk sampai terasa ke ubun-ubun.

Di malam umat Kliwon, Aku dan suamiku yang ingin berkunjung kerumah pamanku, Tante dan bibi dan kelima anaknya yang terkena dampak musibah banjir bandang. Akan tetapi satu keluarga hilang. Karena sampai saat ini juga jasad mereka belum ditemukan sampai saat ini. Jangankan dalam keadaan hidup, mayat mereka pun, bila sudah tidak bernyawa juga masih belum di temukan hingga saat ini, Bisa saja terhanyut banjir yang begitu dahsyat dan hanyut ke tengah laut.

Karena tidak ada sanak saudara di desa Baguang, maka kami pun menyewa rumah penduduk. rumah yang kami sewa kayu itu dibangun dari kayu dan di bangun oleh warga. kami menyewa beberapa hari selama di Baguang. Malam pun semakin larut, dan keadaan di sekitár semakin sepi dan sunyi. di dalam gelapnya malam hari, aku pun bergegas mengambil senter dari kamar yang berada di dekat suamiku tidur, karena untuk melihat keadaan di daerah dapur. Karena di landa rasa lapar pikirku aku bisa memasak mie instan.

Tiba-tiba ada suara dari pintu dapur.
“Lapar,..aku lapar,” suara yang berasal dari luar pintu.
“suara siapa itu.., malam-malam begini kelaparan?” terbisik di batinku.
Namun suara itu semakin mengeras. akupun, menjadi makin penasaran.
“Hallo…Siapa ya?” tanyaku, dari arah dekat kompor.
“Ini Aku Bibi……, aku, Maryamah, aku belum makan Bibi…,” katanya, jelas sekali terdengar ditelingaku.

Sosok maryamah sangat tidak asing lagi bagiku. Karena maryamah itu anak paling besar dari Paman Budiman, yang pada saat ini terkena musibah banjir bandang sebulan yang lalu.
“Maryamahkah anaknya Pak Budiman?” tanyaku kepada suara itu berasal.
“Benar Bibi, ini Maryamah anaknya Pak Budiman,” katanya.

Aku pun bergegas mengambil senter dan membuka pintu dapur. Dimana sumber suara berbunyi. Dengan sangat perlahan aku pun mulai membuka engsel pintu yang terkunci itu. Aku pun menyenter kearah suara tersebut dan dengan jelas aku melihat Maryamah sedang berdiri di depan pintu dapur.

“Maryamah…, kamu masih hidup,?” tanyaku, sambil memeluk erat saudara sepupuku dengan mesra.
Aku sangat merindukan dia dan aku sungguh bahagia bisa bertemu dengan dia.
“Di mana Ayah, Ibu dan empat adikmu, Nak?” tanyaku.

Seluruh tubuh Maryamah sangat dingin dan beberapa saat kemudian diapun pingsan. Kemudian aku membawanya ke dalam dapur dan mencoba menidurkannya di lantai. Dengan tergesa-gesa aku pun berlari dan memanggil suamiku yang sedang teridur pulas. Tiba-tiba suamiku kaget, Dan terbangun sambil, mengucek-ucek mata lalu berlari ke arah dapur bersamaku. Suamiku pun membantu Maryamah dan Memberikan balsem di hidungnya.

Maryamah pun akhirnya menyadarkan diri dan aku pun menyuapi super mie yang kubuat kepada maryamah. Setelah itu, suamiku pun’membuatkan teh panas untuk Maryamah. kami pun bertanya kepada Maryamah. Di mana kedua orangtuanya dan juga empat adiknya. Maryamah hanya bisa menangis sambil menundukkan kepalanya. Aku pun mengerti perasaan yang di alaminya dan aku mengurut punggungnya sambil bersedih akan tragedi ini.

Saya pun mngucap syukur Alhamdulihlah, Karena Maryamah bisa bertemu dengan kami. Di malam itu juga aku pun memandikan Maryamah dengan air hangat dan akhirnya dia pun tertidur sangat pulas. Aku tidur bersama Maryamah tanpa ranjang. Karena kami berdua tidur di lantai di dekat luar kamar depan. Jam menunjukkan jam tujuh pagi aku p terbangun. Mas Hardiman masih tertidur pulas di ranjang kamar depan. Tiba-tiba saya kaget melihat maryamah sudah tidak ada lagi berada di sampingku. Dengan bergegas aku pun membangunkan mas gatot dari tidurnya, Mas gatot pun tersentak kaget ketika aku memberitahukan kepadanya maryamah hilang. Kami pun mencari di sekitar rumah sewaan tapi hasilnya juga nihil.

Mas gatot akhirnya memilih sembahyang Jumat di mesjid kecil Pantai Intan, Kami pun menyewa perahu dan menuju ke pulau mandalika putri. Setibanya kami disana kami tidak melihat ada seorang pun yang tinggal di pulau tersebut. Tetapi kami menemukan bekas-bekas pakaian dan juga puing-puing peralatan dapur dan juga banyak lainnya yang sudah koyak dan tergigit tikus. Tanpa sengaja aku dan suamiku menemukan baju yang di kenakan oleh maryamah tersebut yang kami jumpai semalam.

‘Mas ini kan….bajunya Maryamah yang semalam di pakainya..,” teriakku, kepada suamiku.
“Iya.. benar sekali ini baju Maryamah Ma,” jawab suamiku.

Akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di pulau mandalika, Dan pada hari itu juga adalah hari sabtu legi. Kami pun tertidur dan bersandar dekat pohon tembesu yang sudah kelihatan berumur tua. Malam pun semakin larut dan tampak keadaan di pulau itu sangat mengerikan dan menyeramkan, Namun, pada saat menjelang subuh, terdengar seperti suara Maryamah yang berada di Pulau Mandalika. Maryamah memanggil namaku dan minta tolong ambilkan bajunya dari pohon kermunting Pulau Mandalika.

“Suara itu…. Mas, di mana dia?” teriakku, kepada suami.
Dengan bergegas akupun mengambil bajunya dan memegang baju mawar merah itu.
“lni baju yang kamu minta tolong ambilkan, aku letakkan di mana Maryamah?” tanyaku.

Kami sudah menyadari bahwa Maryamah yang sekarang bukanlah manusia lagi. Akan tetapi makhluk halus yang berwujud manusia dan berinteraksi dengan kami semalam. Maryamah pun meminta agar bajunya itu di lempar kearah kermunting tempat aku menemukan baju itu. Setelah aku melemparkan bajunya, Maryamah meminta kepada kami agar segera naik kembali ke perahu dan kembali ke Pantai Intan supaya pulang ke Desa Baguang. Kami menuruti apa yang di katakan maryamah kepada kami.

Tanpa di sadari dan diluar dugaan kami, Sosok arwah Maryamah membantu kami mengayuh perahu kami dengan cepat. Hanya dalam hitungan menit saja kami pun sudah sampai di pantai intan, Dan sesudah maryamah menolong kami akhirnya maryamah berjalan ke laut dan tiba-tiba saja sosok maryamah masuk kedalam laut dan menghilang begitu saja dengan busana mawar yang ada di tubuhnya.

Sampai saat ini kami rutin berdoa untuk arwah Maryamah dan juga keluarga besarnya, Kami mendoakan supaya keluarga besar pamanku dan juga Maryamah dan ibunya dan juga ke empat adiknya agar di berikan ridho dari ALLAH dan mohon di berikan pengampunan dan memasukkan mereka semua kedalam surganya yang indah. Aamiin yaa robbal aalaamiin.