Menu

Makam Orang Sakti di Tengah Jalan Kompleks Pemerintahan Banyumas

November 11, 2018 - Misteri
Makam Orang Sakti di Tengah Jalan Kompleks Pemerintahan Banyumas

KORANGAIB.COM Di tengah hiruk pikuk pembangunan Kabupaten Banyumas, masih menyisakan misteri yang sepi. Sekira dua ratus meter arah timur pintu gerbang kompleks Pendopo Bupati Banyumas, terdapat bangunan kecil di pertigaan jalan. Bangunan kubus berukuran 2 meter kubik itu disebut-sebut sebagai makam.

Bisik-bisik orang sekitar menyebutkan bersemayam jasad orang sakti pada zaman entah kapan. Cerita itu di dapat orang-orang kini secara turun temurun. Sampai saat ini, setidaknya ada dua kisah asal muasal makam itu yang disebut sebagai Makam Ragasemangsang.

Makam Ragasemangsang secara administratif berbatasan dengan Kelurahan Sokanegara, Purwokerto Timur. Ketua RT 03 RW 05 Kelurahan Sokanegara, Karto Suwito (73) menjelaskan bahwa makam Ragasemangsang sudah ada sejak ia pindah ke sana pada tahun 1962. Waktu itu, ia masih kelas 3 SD.

Kisah pertama yang berkembang di lingkungannya, makam itu adalah makam orang sakti yang tidak diketahui namanya. Orang sakti itu memiliki pancasona, ilmu kebal yang tumbuh di tanah Jawa. Orang yang memiliki ilmu itu jika terluka akan sembuh seketika. Pemilik ajian ini bisa mati hanya jika ia tidak menyentuh tanah.

Orang sakti itu kemudian bertarung dengan Kiai Pekih, yang konon adalah tokoh masyarakat yang hidup di lingkungan yang sama. Karena dianggap meresahkan, Kiai Pekih kemudian bertarung dengan orang sakti pemilik ajian pancasona itu.

Karena mengetahui kelemahannya, Kyai Pekih kemudian mengalahkannya dengan menggantungnya di sebuah pohon besar. Warga yang melihat hal itu kemudian menyebut sosok yang tergantung itu sebagai Ragasemangsang. Dalam bahasa Jawa, Raga artinya tubuh atau jiwa, sedangkan semangsang artinya menyangkut atau menyangsang.

“Menurut cerita orang sini, karena kesaktiannya itu dan takut terjadi apa-apa, tempat Ragasemangsang mati tidak diapa-apakan dan dibuat makamnya,” ujar Karto.

Sedangkan makam Kiai Pekih ada di gang sebelah barat pendopo Bupati Banyumas. Seolah kedua makam itu menjadi pengingat tentang kebajikan melawan kejahatan di pusat kota yang dijuluki Kota Satria itu.

Versi kedua yang berkembang di masyarakat berlatar masa perjuangan melawan penjajah. Namun, tidak pula jelas penjajah mana yang berkuasa saat itu.

“Waktu masa penjajahan, ada pejuang yang terjun payung. Tapi dia tewas tersangkut di pohon,” katanya.

Sebagai penghargaan atas jasa pejuang, maka tempatnya menghembuskan nafas terakhir dijadikan makam dan dirawat. Dari pejuang tersebut tidak ditemukan data diri. Oleh sebab itu, masyarakat menyebutnya sebagai Ragasemangsang.

Sekitar tahun 1962, Karto bersaksi bahwa makam Ragasemangsang tidak berada di tengah jalan pertigaan seperti sekarang. Dahulu, letaknya ada di tepi jalan kecil yang belum diaspal.

Sekitar Tahun 1963-1964, terjadi perluasan jalan di sekitar makam Ragasemangsang. Karena melihat makam itu menjadi misteri dan diberi penghargaan khusus oleh masyarakat terdahulu, akhirnya makam itu tidak dipindahkan. Meskipun pada akhirnya makam itu berada persis di pertigaan jalan.

Kepala bidang pariwisata Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko mengatakan bahwa tidak ada catatan pasti tentang kisah Makam Ragasemangsang.

Ia berpendapat bahwa cerita-cerita rakyat tidak bisa bertahan karena adanya perpindahan dan pembangunan kota tidak diiringi dengan pencatatan dan penelitian.

“Mitologi dan kisah-kisah itu tidak bertahan karena ceritanya terputus. Pewaris kisahnya tidak jelas dan tidak ada juru kunci,” katanya.