Menu

Jiwa Yang Hilang

May 14, 2018 - Misteri
Jiwa Yang Hilang

Sebut saja lek har, berusia 30 lebih imigran dari Jawa yang tinggal di desa saya, kebetulan ada seorang saudara yang tinggal di desa saya. Tiga hari sebelum kejadian, saya dan lek har bekerja bersama dengan mobil, alih-alih untuk menambah pekerjaan sampingan. Sore itu sebelum aku dan lek har selesai bekerja, lek har memberitahuku.

“Le, ayo kita pulang kerja memancing, menghitung untuk ngilangin stres” ajak lek har.

Oh iya, Le adalah panggilan untuk seorang anak yang masih di bawah kita, karena usiaku yang cukup terombang-ambing adalah usia yang sama lek har har.

“Maaf, enggak lek, saya capek istirahat aja nanti pulang kadang-kadang itu” jawab saya
“Oh ya sudah kalau begitu” jawab lek kembali.

Kami akhirnya pulang karena pekerjaan telah selesai, dan pada malam hari saya bermain ke rumah lek har, bergaul dengan teman-teman saya yang lain juga.

“Bukankah kamu pergi memancing lek?” Saya bertanya.
“Tidak ada, tidak ada yang mau diundang”.
“Kapan saja kita memancing dengan lek”.
“Iyalah mudah” jawab lek har.

Dan kami juga bermain kartu untuk hiburan, dari tidak ada pekerjaan, tetapi tidak bermain uang loh ya. Bahkan malam pun tidak terlambat, jam sudah menunjukkan pukul 12.30 malam.

“Lelah, mengantuk, aku pulang dulu,” kataku.

Akhirnya semua tindak lanjutnya bubar dan pulang juga. Hari 2 sebelum acara. Pada hari aku melewati seperti biasa dan malam kembali lagi, seperti biasa lagi aku bermain lagi ke rumah lek har.

“Bagaimana lek, jadi memancing?” Saya bertanya.
“Apa memancing? Ngajak tidak ada yang mau kok” jawabnya.

Kami pergi bermain kartu seperti biasa dan sampai larut malam, sampai aku dan yang lain pulang karena sudah mengantuk. Keesokan harinya pada malam kejadian. Saya berencana pergi ke pasar malam bersama teman-teman di desa berikutnya, kebetulan ada pasar malam di daerah saya. Eh kapan waktunya mau pergi, tiba-tiba lek nephe lewat di depan rumah saya.

Gadis remaja dan masih ada hubungan kerabatku juga aku. Sebut saja nama amel (nama saya menyamar) karena keluarga tempat tinggal lek har masih relatif dengan keluarga saya. Jadi amel juga masih keponakan saya juga, ya meskipun keponakan jauh-jauh kok. Lanjutkan cerita.

“Mel di sini sebentar,” kataku pada Amel.
“Ya mas, kenapa?” Said Amel.

Namanya juga laki-laki, jadi saya basa basi juga sama amel * hehe.

“Mau kemana? Yuk nonton pasar malam yuk” ajak aku sambil berharap amel mau.

Sedikit info nih, meski keponakan saya amel, tapi saya dan amel punya waktu berpacaran jadi, tanpa ada hubungan darah pun, saya pikir dulu. Karena putranya amel juga cantik, * hehe. Bahkan ngelantur di mana-mana ya karena amel, oke lanjut ke ceritanya lagi.

“Tidak bisa mas, karena lagi nyariin lek har dari tadi sore tidak bolak-balik” kata amel.
“Ke mana Lah pergi?” Saya bertanya.
“Siang tadi dia bilang mau mas ikan” jawab amel.

Sudah jam 7 pagi.

“Lah hanya mau nyari dimana mel?”.
“Ini mas, di rawa dekat desa berikutnya, karena motornya ada tapi lek har tidak ada, punya rawa (di mana orang-orang biasa memancing) panggilan telepon lek har tidak ada, tapi motornya ada di sana, bapak dari lainnya juga ada nyariin lek har “jelas amel buat saya
“Oh ya sudah, aku datang kalau begitu”.

Akhirnya saya dan teman saya tidak melihat pasar malam dan pergi ke rawa untuk nyari lek har.

“Oh ya, malam itu tepat Jumat malam kliwon”.

Sesampainya disana, terlihat beberapa orang lagi nyariin lek har di sini karena motor masih ada di lokasi rawa, ada juga nyariin di taman lek har, kebetulan lokasi taman lek har dekat lokasi rawa, dan tidak aneh juga jika ada yang nyari di kebunnya, karena lek har sudah ngerawat nabati normal padahal sudah malam.

Oh iya, lek har orang itu bisa mengatakan cukup berani, dan dia terbiasa dengan hal yang sama mistik sehingga, karena dia terbiasa melihat hal-hal yang tidak terlihat. Setelah pencarian di lokasi sepeda dan di kebun juga tidak ada, semua jadi semakin membingungkan. Sampai akhirnya orang menemukan tas peralatan memancing yang sama di tepi rawa, dan ada satu pancing yang masih terjebak di lokasi di tas yang sama ditemukan pancing tadi, selain itu ada sandal yang ada di tepi rawa yang terlihat seperti tertinggal di dalam air.

Usut punya usut info saya bisa ya ya, ternyata lek har pergi memancing sendiri, karena dari 3 hari sebelum waktu dia mengajak saya memancing, sampai hari kejadian, tidak ada orang yang mau mengajak memancing. Padahal biasanya harus berangkat kesibukan ketika sedang usaha memancing, karena di tempat saya orang hobi memancing.

Mungkin ketika * apesnya atau bagaimana begitu, ketika itu tidak ada yang mau mengajak lek har memancing, sampai akhirnya lek har pergi memancing sendiri, dan terjadi kejadian itu. Sekadar Info, menurut orang pintar, lokasi rawa memang tempat semua yang tidak kelihatan, bisa dikatakan pasar adalah makhluk gaib atau tempat berkumpul dan melewati segala macam yang tak terlihat.