Menu

CERITA GAIB : Istana Gaib dan Ular Raksasa di Pantai Glagahwangi Demak

November 22, 2018 - Misteri
CERITA GAIB : Istana Gaib dan Ular Raksasa di Pantai Glagahwangi Demak

KORAN GAIB.COM DEMAK – Pesona keindahan Pantai Glagahwangi di Demak Jawa Tengah semakin dikenal akhir-akhir ini. Pantai yang berlokasi di Desa Tambakbulusan, Kecamatan Karangtengah itu masih sangat rawan karena tak mudah dijangkau. Pengunjung harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak dan menembus rimbunnya hutan mangrove agar bisa mencapai lokasi.

Pada musim kemarau beberapa waktu lalu, jalan setapak relatif bisa dilalui dengan lancar. Namun memasuki musim hujan saat ini, wisatawan harus sangat berhati-hati jalanan licin. Apalagi, kanan-kiri jalan terdapat tambak-tambak ikan yang dipenuhi air, sehingga tak ada pilihan selain mengatur langkah agar tak terperosok ke jalan berlumpur.
Usai melintasi jalan setapak sejauh kurang lebih 500 meter, pengunjung harus menyeberangi sungai dengan jembatan bambu. Meski terlihat mudah, namun dibutuhkan nyali besar untuk melewatinya. Konstruksi jembatan tinggi menjulang dengan pijakan kaki hanya dari dua atau tiga batang bambu. Untuk menjaga keseimbangan terdapat pegangan tangan di samping atasnya.

Saat melintas harus berhati-hati agar tak terpeleset sekaligus menghindari beban berlebih di pijakan bambu. Setiap pijakan menyisakan suara berderit hingga menciutkan nyali, ketika berada tepat di tengah sungai. Jembatan itu sengaja dibuat tinggi agar perahu-perahu nelayan yang hendak melaut bisa melintas di bawahnya.

Lepas dari jembatan bambu yang beresiko itu, wisatawan masih harus menembus rimbunnya hutan mangrove. Meski siang hari, hutan mangrove terlihat gelap dan hanya sesekali terlihat sinar matahari yang menyelinap di antara dedaunan dan ranting mangrove. Beruntung, telah terdapat trek atau jalur berupa jembatan kayu yang membelah hutan mangrove. Jalur sepanjang 500 meter itu akan langsung mengantarkan wisatawan ke bibir Pantai Glagahwangi.

Seketika, pemandangan alam yang indah seakan terhampar di depan mata. Birunya air laut yang berkilauan di bawah sinar mentari langsung menyambut setiap pengunjung. Ombak pantai cukup landai, sehingga pengunjung dan beberapa anak bisa bermain air dengan aman. Garis pantai juga cukup panjang, hingga menjadi spot foto yang menarik di sejumlah tempat.

Namun, di balik indahnya pantai pengunjung harus mematuhi beberapa pantangan bila tak ingin celaka. Mitosnya, diantaranya adalah menjaga sopan santun dan tak berbicara sembarangan. Pantai ini tak hanya lokasinya yang terlindung oleh kondisi geografis tetapi juga oleh makhluk tak kasat mata. Bahkan, banyak masyarakat yang meyakini bahwa di tempat tersebut terdapat istana gaib dan dua ular raksasa berkepala manusia yang menjadi penunggunya.

“Kalau di sini itu, bagi orang yang bisa (memiliki indera keenam) bisa melihat ada istana yang sangat besar. Malah kalau kemampuannya lebih bisa melihat atau ditemui oleh ular raksasa berkepala manusia. Ada dua, laki-laki dan perempuan. Sepasang,” ujar tokoh masyarakat, Mbak Tania , belum lama ini.

Dia mengatakan, lokasi istana gaib itu tidak berada persis di tempat para wisatawan biasa bermain air. Istana gaib agak menjorok ke tengah laut. Meski demikian, daerah kekuasaannya meliputi banyak tempat termasuk bibir pantai. Oleh karenanya, perempuan yang sehari-hari berjualan aneka minuman dan makanan di pantai tersebut, kerap meminta pengunjung untuk menjaga sikap.

“Beberapa waktu lalu ada rombongan pelajar datang ke sini. Nah ada satu perempuan yang sikapnya murung. Malah dia bilang mau mati. Tak berapa lama, saat teman-temannya bermain air, dia berjalan sendiri terus ke tengah lautan. Seperti enggak sadar, kerudungnya dilepas. Dipanggil-panggil suami saya enggak dengar, lalu dikejar dan ditarik ke tepi,” terangnya.

Gadis pelajar itu pun akhirnya selamat dari maut. Untuk mengembalikan kesadarannya, Mbak Tania yang dikenal sebagai “orang pintar” tersebut lantas melakukan ritual tertentu ditemani suaminya, Ahmad Suudi. Pasutri itu kemudian meminta para pelajar untuk tak sembarangan berbicara dan segera pulang.

“Gadis yang enggak sadar tadi juga saya minta tak kembali dalam waktu dekat. Biar traumanya hilang dulu. Dulu sekira lima tahunan ada dua gadis yang meninggal di sini. Keduanya juga berjalan ke tengah lautan dan meninggal. Pencarian jenazah cukup lama. Satu ditemukan mengambang dan satunya seperti tertidur di pasir, dasar laut,” lugasnya sembari tersenyum.

Menurutnya, Pantai Glagahwangi tak bisa lepas dari mistis. Selain keberadaan istana gaib, lokasi itu juga dijaga kekeramatannya. Bahkan, jika pengunjung tak mengindahkan peringatan-peringatan bisa menjadi korban. “Kalau nelayan-nelayan itu biasanya niteni (mengetahui) jika mencium aroma harum, di situlah mulai tiba di kawasan Pantai Glagahwangi,” terangnya.

Sementara itu, Ahmad Suudi, menceritakan pengalamannya saat mengantarkan beberapa pengunjung yang hendak memancing ke tengah lautan. Dengan menaiki perahu, dia bersama enam pengunjung melaju ke tengah laut pada malam hari. Mendadak salah seorang pengunjung terperanjat melihat cahaya sangat terang, seolah perkotaan yang dihuni banyak orang.

“Dia sempat bertanya ke saya apa itu (cahaya terang). Tapi saya enggak menjawab. Hanya bilang nanti saja kalau sudah di daratan saya akan jelaskan. Dia manut (nurut) dan memancing seperti biasa. Setelah di daratan saya bilang, jika Anda beruntung bisa melihat istana gaib itu, karena enggak semua orang diperlihatkan. Orang pintar pun belum tentu bisa (menembus melihat istana gaib),” katanya.

Pria berambut gondrong itu menambahkan, kawasan wisata baru di pesisir Demak tersebut juga kerap menjadi lokasi terapi penyakit medis maupun nonmedis. Dia menceritakan, seorang pengunjung perempuan yang tengah kerasukan dari rumah dibawa ke pantai untuk disembuhkan. Makhluk gaib yang menggangu perempuan itu, dikabarkan takut dengan air laut di Pantai Glagahwangi.

“Semula (gadis kerasukan) dibawa dukunnya sendiri, tapi belum bisa sembuh. Akhirnya ketahuan istri saya, dan gadis itu di bawa dekat warung sini. Di bawah pohon tersebut digelar ritual dengan beberapa kembang. Lalu gadis itu dibawa ke tengah laut dan bisa lepas itu gaib yang mengganggunya. Jadi ya memang butuh kemampuan juga selain air pantai sini memang keramat,” lugasnya.

Sementara itu, Sie Keamanan Desa Tambakbulusan, Jatmiko, meminta setiap pengunjung senantiasa menjaga keselamatan masing-masing. Dia berkeyakinan, makhluk gaib juga berdampingan dengan manusia di alam yang berbeda. Meski tak kasat mata, namun sesuai kepercayaan warga setempat Pantai Glagahwangi juga dihuni makhluk selain manusia.

“Kita memang meminta kepada yang jualan di pantai ikut memantau para pengunjung. Lokasi mana saja yang berbahaya, mereka akan mengasih tahu. Ini semua demi keselamatan pengunjung. Termasuk kami sebagai warga sini juga melakukan prosesi larungan setiap Syawalan. Semoga selamat semuanya, pengunjung maupun warga kami,” harap pria yang biasa dipanggil Kang Miko itu.